Cerita dari Gumuk Agung: Ketika Pendidikan Perempuan Masih Dianggap Sia-sia

Cerita dari Gumuk Agung

Cerita dari Gumuk Agung – Di balik hamparan sawah yang menghijau dan aroma tanah basah yang menguar setiap pagi, berdirilah sebuah dusun kecil di kaki perbukitan, Gumuk Agung. Dari luar, kehidupan di sana tampak damai—seperti potret pedesaan yang romantis dan tenteram. Tapi siapa sangka, di balik tenangnya angin yang berdesir dan ramahnya senyum warga, tersembunyi luka panjang: luka atas nama tradisi yang mengekang perempuan dari hak paling mendasarnya—pendidikan.

Di dusun ini, masih banyak keluarga yang meyakini bahwa menyekolahkan anak perempuan terlalu tinggi hanyalah membuang-buang waktu dan biaya. “Toh nanti akhirnya ke dapur juga,” begitu kalimat yang kerap terdengar dari para orang tua. Kalimat yang mungkin terdengar biasa di telinga mereka, tapi sesungguhnya seperti palu yang menghantam cita-cita anak perempuan mereka sendiri.

Laras, Anak Pertama yang Berani Melawan Arus

Laras namanya. Gadis 17 tahun dengan mata tajam dan langkah penuh keyakinan. Ia tinggal di sebuah rumah kayu sederhana di ujung dusun, bersama ibu dan tiga adiknya. Ayahnya telah lama meninggal karena kecelakaan saat bekerja sebagai buruh bangunan di kota. Sejak itu, ibunya menjadi tulang punggung keluarga—menjual hasil kebun dan membantu tetangga sebagai tukang cuci.

Sejak kecil, Laras sudah menyukai sekolah. Baginya, ruang kelas dan deretan buku-buku yang menguning adalah tempat paling nyaman di dunia. Tapi ketika lulus SMP, Laras di hadapkan pada kenyataan pahit: ibunya, yang dulu selalu mendukungnya, kini mulai ragu. “Sekolah itu mahal, Laras. Kamu perempuan, nanti juga menikah. Lebih baik bantu Ibu di rumah,” ucap sang ibu dengan suara bergetar, tak kuasa menatap mata putrinya.

Namun Laras tidak menyerah. Ia pergi ke rumah kepala dusun mahjong, meminta rekomendasi beasiswa. Ia berjualan pisang goreng setiap pagi sebelum sekolah. Ia bahkan meminjam buku-buku dari guru karena tidak mampu membelinya. Laras menjadi simbol perlawanan di tengah budaya yang terlalu lama membungkam suara perempuan.

Tradisi, Dalih yang Terus Digenggam

Masyarakat Gumuk Agung punya adat yang kuat. Mereka menjunjung tinggi kehormatan keluarga dan peran gender yang diwariskan secara turun-temurun. Anak perempuan di harapkan menikah muda, mengurus rumah, dan menuruti suami. Sementara anak laki-laki di dorong untuk sekolah, bekerja, dan “memimpin”.

Pendidikan di anggap sekadar pelengkap. Perempuan yang terlalu pintar sering di cap “sulit di atur” atau bahkan “tidak laku”. Banyak gadis yang terpaksa berhenti sekolah bukan karena tidak mampu, tapi karena dianggap terlalu mandiri. Seolah-olah kecerdasan adalah ancaman bagi sistem yang sudah mapan.

Ironisnya, di dusun yang hanya berjarak puluhan kilometer dari pusat kota, pikiran seperti ini masih sangat kental. Padahal, di luar sana, dunia sudah berubah. Perempuan bisa jadi presiden, ilmuwan, pilot, atau apapun yang mereka mau. Tapi di Gumuk Agung, langkah mereka masih terbelenggu oleh warisan pikiran purba.

Ketakutan yang Diturunkan

Ibu Laras bukanlah orang jahat. Ia hanyalah produk dari sistem yang menindasnya sejak kecil. Ia menikah di usia 15, berhenti sekolah di kelas 2 SMP, dan tidak pernah mengenal dunia lain selain dapur dan ladang. Baginya, memilihkan jalan yang “aman” bagi anak perempuan bukan bentuk penindasan, melainkan perlindungan. Ia takut Laras kecewa, takut Laras lelah mengejar mimpi di dunia yang tak adil bagi perempuan.

Ketakutan seperti ini tidak datang dari ruang kosong. Ia diturunkan dari generasi ke generasi. Ia mengakar kuat dalam diskusi warung kopi, dalam ceramah-ceramah agama, dalam bisik-bisik tetangga. Bahwa perempuan yang terlalu pintar akan berakhir sendirian. Bahwa perempuan yang “berani” akan dikucilkan. Dan bahwa semua perempuan akhirnya harus kembali ke dapur juga.

Cahaya yang Mulai Menerobos Celah

Namun, cerita Laras perlahan menyebar. Beberapa ibu mulai bertanya bagaimana ia bisa mendapatkan beasiswa. Seorang guru dari kota datang dan mulai mengadakan kelas bimbingan gratis setiap akhir pekan. Bahkan, kepala dusun—yang dulunya kaku—mulai membuka diskusi publik soal pentingnya pendidikan anak perempuan.

Laras kini duduk di bangku kelas 2 SMA di kota. Ia bolak-balik naik sepeda motor pinjaman, berjarak hampir satu jam dari rumah. Ia sudah punya rencana: ingin kuliah di jurusan pendidikan, kembali ke Gumuk Agung, dan membuka sekolah informal untuk anak-anak dusun. “Aku tidak mau adik-adikku tumbuh dengan pikiran bahwa mereka tidak berhak bermimpi,” katanya dengan penuh keyakinan.

Gumuk Agung belum sepenuhnya berubah. Masih banyak yang menertawakan mimpi-mimpi anak perempuan. Masih banyak ayah yang melarang anaknya sekolah hanya karena mereka perempuan. Tapi benih itu sudah di tanam. Dan siapa pun tahu, benih yang di tanam dengan keyakinan tak akan lama lagi tumbuh menjadi pohon yang kokoh. Dan ketika pohon-pohon itu tumbuh, siapa tahu? Mungkin suatu hari, Gumuk Agung akan menjadi dusun yang dikenal bukan karena kemunduran tradisinya, tapi karena keberanian perempuan-perempuannya melawan arus.